Jumat, 05 Oktober 2012


Makalah

Metodologi studi islam

Tentang:

Urgensi studi islam


Oleh :
Hidayatul Rafles                    411.061
Indah Permata Sari              411.184
Hafiza                                     411.285
Ramadhana Putri                 411.415
Wandi Saputra                      411.



Dosen pembimbing :
Azizah meria, M. Ag




JURUSAN TADRIS IPS SEJARAH
FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
IMAM BONJOL PADANG
Tahun 2012 M/ 1434 H



Urgensi studi islam
1.      Pengertian
Secara bahasa metodelogi islam berasal dari kata “metodos” yang berarti cara dan “logos” berarti ilmu. Berarti metodelogi adalah ilmu tentang cara atau jalan. Maka metodelogi islam merupakan jalan yang mudah di tempuh untuk memudahkan pendidik dalam membentuk pribadi muslim yang berkepribadian islam dan sesuai dengan ketentuan-ketenuan yang di gariskan oleh al-Quran dan hadist.

Menurut beberapa ahli pengertian metodelogi adalah :
a.       Menurut M. Zein, metodelogi studi islam adalah satu cabang ilmu engetahuan yang membahas cara-cara yang dapat ditempuh untuk dapat mencapai tujuan sesuai dengan yang dikehendaki.
b.      Menurut zulkhairini dkk, merupakan segala usaha yang sistematis dan pragmatis untuk mencapai tujuan agama, melalui berbagai aktifitas baik di dalam atau di luar kelas dalam lingkungan sekilah[1]
c.       Menurut Taufik Abdullah studi islam adalah pengkajian tentang ilmu-ilmu ke islaman.[2]
Maka studi islam adalah usaha sadar dan sistematis untuk mengetahui dan memahami serta mambahas secara mandalam tentang seluk beluk atau hal-hal yang berhubungan dengan agama islam baik yang berhubungan dengan ajaran, sejarah maupun praktek-praktek pelaksanaannya secara nyata dalam kehidupan sehari – hari.[3]
2.      Pembahasan Studi Islam
Pendidikan islam merupakan komponen yang tidak dipisahan antara satu dengan yang lain. Menurut Abu Ahmadi ruang lingkup pendidikan islam pada dasarnya mengacu pada lima hal yaitu:
a.       Perencanaan, adalah suatu kegiatan yang dilakukan sebelum melakukan suatu aktifitas.
b.      Bahan pembelajaran, yaitu sesuatu yang diberikan kepada siswa saat berlangsungnya proses belajar mengajar.
c.       Strategi pembelajaran, berarti rencana yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran khusus.
d.      Media pembelajaran (alat), sarana yang dapat membantu proses belajar mengajar atau menetapkan alat penelitian yang paling tepat untuk anak didik.
e.       Evaluasi, memberikan pertimbangan atau nilai berdasarkan kriteria tertentu.[4]
Karena pendidikan agama bertujuan sebagai suatu kegiatan yang membentuk manusia agamis dengan menanamkan aqidah keiamanan, amaliah, dan budi pekerti yang terpuji untuk menjadi manusia yang taqwa kepada Allah SWT. Dan membetuk keseimbangan hidup di dunia dan akhirat.[5]
3.      Tujuan Metodelogi Studi Islam
Setiap usaha mesti mengandung tujuan, dan setiap orng yang terlibat dalam suatu usaha haruslah mengarahkan segala daya upayanya untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Studi Islam, sebagai usaha untuk mempelajari secara mendalam tentang islam sudah tentu mempunyai tujuan yang jelas, adapun arah dan tujuan studi Islam sebagai berikut:
a.       Untuk mempelajari secara mendalam tentang apa sebenarnya agama islam itu dan bagaimana posisi serta hubunganya dengan agama lain dalam kehidupan budaya manusia.
b.      Untuk mempelajari secara mendalam pokok-pokok isi ajaran agama Islam yang asli dan bagaimana penjabaran dan operasionalisasinya dalam pertumbuhan perkembangan budaya dan peradaban islam sepanjang sejarahnya.
c.       Untuk mempelajari secara mendalam sumber dasar ajaran agama islam yang tetap abadi dan dinamis, dan bagaimana aktualisasinya.
d.      Untuk mempelajari secara mendalam prinsip-prinsip dan nilai-nilai ajaran agama islam dan bagai mana realisasinya dalam membimbing dan mengarahkan serta mengontrol perkembangan budaya dan peradaban manusia pada zaman modren ini.[6]
Tujuan pengajaran agama islam itu, harus berisi hal-hal yang dapat menumbuhkan dan memperkuat iman serta mendorong kepada kesenagan mengamalkan ajaran agama Islam.[7]
4.      Urgensi Metode Dalam Studi Islam
Pada saat ini umat Islam sedang menghadapi tantangan dari kehidupan dunia dan budaya modern, studi keislaman menjadi sangat urgen. Urgensi studi islam dapat di pahami sebagai berikut:
a.       Umat Islam pada saat ini berada dalam kondisi problematis. Saat ini umat Islam masih berada dalam posisi pinggiran dan masih lemah dalam segala sosial budaya. Umat Islam harus biasa melakukan gerakan pemikiran yang dapat menghasilkan konsep pemikiran yang cemerlang dam operasional untuk mengantisipasi perkembangan dan kemajuan tersebut.
b.      Umat manusia dan peradabannya berada dalam suasana problematis. Pesatnya perkembangan dan teknologi moderen telah memmbuka era baru dalam perkembangan budaya peradaban umat manusia, yaitu era globalisasi. Berbagai situasi problematis yang ditimbulkan oleh illmu pengetahuan dan filsafat modern. Situasi seperti itu bukan hanya menimpa atapi juga tantangan bagi seluruh umat manusia di seluruh dunia, termasuk umat islam. Disinilah letak urgensi studi islam, untuk mengambil kembali ajaran-ajaran islam yang murni dan asli bersifat manusiawi dan universal mewujudkan dirinya sebagai Rahmatan lil ‘alamin.
5.      Metode-Metode dalam Studi Islam
Metode studi islam dapat dijabarkan di antaranya:
a.       Metode diakronis
Merupakan suatu metode mempelajari islam yang menonjolkan aspek sejarah. Metode dikronis disebutjuga metode sosio-historis, yakni suatu metode pemahaman terhadap suatu kepercayaan, sejarah atau kejadian dengan melihatnya sebagai suatu kenyataan yang mempunyai kesatuan yang mutlak dengan waktu, tempat, kebudayaan, golongan dan lingkungan dimana kepercayaan, sejarah atau kejadian itu muncul.
b.      Metode sinkronis- Analitis
Merupakan suatu metode mempelajari islam yang memberikan kemampuan analisis teoristis yang sangat berguna bagi perkembangan keimanan dan mental intelek umat islam. Metode ini tidak semata-mata mengutamakan segi aplikatif praktis, tetapi jga mengutamakan telaah teoritik.
Metode diakronis dan sikronis-analistismenggunakan asumsi dasar sebagai berikut:
Ø  Islam adalah agama wahyu Ilahiyang berlainan dengan kebudayaan sebagai hasil daya cipta dan rasa manusia(QS. Al-Najm: 3-4).
Ø  Islam adalah agama yang sempurna dan diatas segala-galanya(QS. Al-Maidah:3)
Ø  Wajib bagi umat islam untuk mengajakpada ma’ruf dari nahi munkar.
(QS. Ali Imran: 104)
Ø  Wajib bagi umat islam untuk mengajak orang lain kejalan Allah dengan jalan yang hikmah dan penuh kebijaksanaan.(QS. An-Nahl:125)
Ø  Wajib bagi umat islamuntuk mengajak orang lainmenurut kemampuannya.
Ø  Wajib bagi sebagian umat islam untuk memperdalam ajaran agama islam.(QS. At-taubah: 122)[8]
c.       Metode problem solving (hallu al-musykilat)
Merupakan metodeislam yang mengajak pemeluknyauntuk berlatih menghadapi berbagaimasalah dari satu cabang ilmupengetahuan dengan solusinya.
d.      Metode Empiris (tajribiyah)
Suatu metode yang mempelajari Islam yang memungkinkan umat Islam mempelajari melalui proses realisasi, aktualisasi, dan internalisasi norma-norma dan kaedah islam dengan suatu proses aplikasi yang menimbulkan suatu interaksi sosial, kemudian secara deskriptif proses interaksi dapat dirumuskan dalam suatu sistem norma baru.
e.       Metode deduktif (Al-Manhaj al-istinbathiyah)
merupakan suatu metode memahami islam dengan cara menyusun kaedah-kaedah secara logis dan filosofis,  dan selanjutnya kaidah-kaidah itu di aplikasikan untuk menentukan masalah-masalah yang di hadapi.
f.       Metode induktif(al-manhaj al-istirayyah)
Suatu metode yang memahami Islam dengan cara menyusun kaidah-kaidah hukum untuk diterapkan kepada masalah-masalah furu’ yang disesuaikan dengan mazhabnya yang lebih terdahulu.
Metode pengkajiannya dimulai dari masalah-masalah khusus, lalu di analisis, kemudian di susun kaidah hukum dengan catatan setelah terlebih dahulu di sesuaikan dengan mazhabnya.
Pelaksanaan metode induktif dapat dilakukan dengan empat tahap, yaitu:
1.      Adanya penjelasan dan penguraian serta penampilan topik pikran yang umum.
2.      Menampilkan pokok-pokok pikiran dengan cara menghubungkan hubungan masalah tertentu, sehingga dapat mengikat bahasan untuk menghadiri masuknya bahasan yang tidak relevan.
3.      Identifikasi masalah dngan mansistematisasi unsur-unsurnya
4.      Implikasi formulisasi yang baru tersebut.[9]
6.      Pendekatan Studi Islam
Adapun pendekatan studi islam ada empat yaitu:
a.       Pendekatan kesejarahan
Maksudnya adalah meninjau suatu permasalahan dari sudut tinjauan sejarah dan menjawab permasalahan serta menganalisisnya denan menggunakan metode analisis sejarah.
Sejarah atau histori adalah studi yang berhubungan dengan peristiwa-peristiwa atau kejadian-kejadian masa lalu, yang menyangkut kejadian atau keadaan yang sebenarnya. Sejarah memang berhubungan dengan peristiwa masa lalu, namun perisiwa masalalu tersebut hanya berarti dapat kita pahami dari sudut tinjau masa kini  dan kita dapat benar-benar memahami peristiwa dan kejadian masa lalu.[10]
b.       Pendekatan kefilsafatan
Maksudnya adalah melihat suatu permasalahan dari sudut tinjauan filsafat dan berusaha untuk menjawab dan memecahkan permasalahan itu dengan menggunakan metode analisis filsafat.
Pada dasarnya filsafat adalah berfikr untuk memecahkan masalah atau pertanyaan dan menjawab sesuai pemikiran.[11]
c.       Pendekatan ilmiah
Maksudnya adalah meninjau dan menganalisis suatu permasalahan atau objek studi dengan menggunakan metode ilmiah pada umumnya.
Ciri pokok dari pendekatan ilmiah adalah terjaminnya objektifitas dan keterbukaan dalam studi. Objektivitas suatu studi akan terjamin jika kebenaranya bisa dibuktikan dan didukung oleh data-data yang kongkrit dan rasional.
d.      Pendekatan doktriner
Maksudnya adalah pendekatan studi dikalangan umat islam yang berlangsung selama ini. Pendekatan doktriner tersebut dimaksudkan bahwa agama islam sebagai objek studi diyakini sebagai sesuatu yang suci dan merupakan doktrin-doktrin yang berasal dari ilahi yang mempunyai nilai (kebenaran) absolute, mutlak dan unniversal.[12]
Ke empat pendekatan tersebut dimaksudkan bukanlah sebagai pendekatan-pendekatan yang di laksanakan secara terpisah satu dengan yang lainya melainkan merupakan satu kesatuan sistem yang dalam pelaksanaannya secara serempak, yang saling melengkapi atau merupakan pendekatan sistematis. Dam ke empat pendekatan tersebut merupakan satu kesatuan yang terpadu untuk mencapai tujuan akhirnya, yaitu mendapatkan gambaran pemahaman tentang agama Islam secara luas, mendalam namun utuh dan dinamis.
7.      Pertumbuhan Studi Islam



[1] Dr. Armai Arief, M.A. Pengantar Ilmu dan Metodelogi Pendidikan Islam.(Jakarta : Ciputat Pres. 2002) h. 87
[2] Rosniati Hakim, Metodelogi Studi Islam.(Padang : Baitul Hikmah.2002) h.1
[3] Muhaimin dkk, Kawasan dan Wawasan Studi Islam. Kencana. H.1.
[4] Armai Arief, Opcit hal. 89-92
[5] Drs. M. Basyirudin Usman, M. Pd. Metodelogi Pengajaran Agama Islam. (Padang: IAIN Press. 1999) hal. 4
[6] Rosniati Hakim, Op.cit hal.9
[7] Dr. Zakiah Darajat dkk, Metodologi Pengajaran Agama Islam, Jakarta: hal. 64
[8] Muhaimin. Op.cit. h. 16
[9] Ibid. H. 17
[10] Rosniati hakim, Op. Cit. H 23
[11] Muhaimin, Op. Cit. H 13
[12] Rosniati Hakim, Op. Cit. H 16